Author: ukhwahfillah
•4:02 PM
Bismillah... .
Khusus buat jundullah sekalian, moga kalian tidak patah semgat dikala taufan meraung garang, moga kalian tidak tersasar arah tika arus mengelombang. ..yakinlah bahawa kalian telah dipilih oleh Nya krn kalian punya mutiara yang mulia, tersemat jauh x kelihatan dek mata, ibarat yang tersimpan di celah tiram, tersembunyi di dasar lautan..kalian punya kekuatan punya kebolehan lantas..apakah lagi yang kalian butuhkan..garapkan kembali kesungguhan, hamparkan pengorbanan. .lemparkan angan-angan. ..kita tidak punya masa lagi untuk omongan kosong..apa erti perancangan tanpa nekad utk merealisasikan perjuangan? Jundullah sekalian...antum punya cita yang murni, punya kepakaran yang tersembunyi. .jangan sekali gentar, jangan sekali goyah pun meski ujian takpernah surut...tetaplah bertahan di posisi kalian... bina kembali kekuatan diri..kerna umat ni perlu kepada pancang2 yang tegap agar kita bisa bangkit kembali mendokong Syiar yang suatu waktu dulu gah merahmati alam ini....

Jundullah sekalian...
Renungkan kisah batang buluh yang tak kenal erti gentar dalam memikul amanah yang di taklifkan ....mungkin pada mrk yang lain kisah ini cuma secebis cereka dari ribuan aneka karya.. tapi bagi jundullah sekalian..ambilah ikhtibar dan moga ia menjadi sebahagian daripada tiupan semngat kala futur itu melanda kelak....

Sebatang buluh yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang buluh ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang buluh lainnya. Suatu hari datanglah Si Petani yang empunya pohon buluh itu.
Dia berkata kepada batang buluh, “Wahai buluh, mahukah engkau ku pakai untuk menjadi paip saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawah ku?”Batang buluh menjawab, “Oh,tentu aku mahu bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi paip saluran air itu?”
Si Petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang- cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah- belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai pekerjaanku, engkau akan menjadi paip yang akan mengalirkan air untuk
mengairi sawahku sehingga padi yang ku tanam dapat tumbuh dengan subur.”
Mendengar hal ini batang buluh terdiam agak lama….kemudian ia berkata kepada Si petani,”Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan terasa sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah- belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek- ngorek bahagian dalam tubuhku untuk membuang sekat- sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat untuk melalui semua proses itu, Tuan?”
Si Petani menjawab segala kerungsingan batang buluh itu, “Wahai buluh, engkau pasti kuat melalui semua itu, aku memilih engkau kerana engkau yang paling kuat daripada semua batang pada umpun ini. Jadilah bertenanglah…”Akhirnya buluh itu menyerah dan redha, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang engkau kehendaki.”

Pernahkah kita terfikir bahawa dengan masalah yang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita menjadi indah di hadapanNya?Sama seperti batang buluh itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kitamenjadi manusia yang berguna. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagiNya. Tapi jangan khuatir, kita pasti kuat kerana Allah tak akan memberi beban yang tak mampu kita pikul. Jadi mahukah kita berserah kepada kehendak Allah membiarkan Dia melakukan sesuatu di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagiNya? Seperti batang buluh itu, mari kita berkata, “Ini hambaMu ya Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Engkau kehendaki. Hamba sedia menempuhnya. .”

|
This entry was posted on 4:02 PM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: